Pertanyaan ini sering menghantuiku selama less than 60 days menjelang kepulanganku ke negaraku tercinta setelah 2 tahun 3 bulan aku menimba ilmu disini. Yang terbersit pertama, pastilah sebagai dosen aku akan diminta untuk mempresentasikan hasil studiku disana. That’s not a big problem…..tapi sesudah itu pastilah pertanyaan demi pertanyaan akan datang padaku semisal : apa ilmu atau teknologi baru yang dibawa setelah studi di Australia? bagaimana perbedaan kurikulum di sana dan disini? apa beda proses belajar mengajar disana vs disini? alat2 & bahan praktikum apa saja di lab kita yang perlu ditambahi? bagaimana tata ruang lab disana dan pembagian kelompok praktikan? Bagaimana perilaku mengajar-diajar dari dosen vs mahasiswa disana? Penelitian apa selanjutnya yang bisa dikembangkan disini? dan mungkin segudang pertanyaan lain yang unpredictable.
Apalagi aku adalah seorang farmasis, pastilah timbul pertanyaan seperti: bagaimana kondisi perapotekan disana? bagaiamana peran farmasis di apotek? di RS? di PT? dll. So, sambil aku menyelesaikan thesisku ini, aku berusaha mengumpulkan data-data dan jawaban atas kemungkinan pertanyaan2 itu. Kesiapan menjawab, pastilah harus siap sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada almamater, institusi, bangsa & negara setelah mengenyam studi dengan beasiswa yang memang harapannya adalah setelah selesai studi hendaknya akan lebih memberikan manfaat bagi negara asalnya.
Oleh-oleh untuk keluarga, saudara & teman? Ini juga pertanyaan yang harus dijawab karena termasuk dalam ‘topik’ di atas. Mereka semua pasti akan menagih apa yang kubawa dari luar negeri sebagaimana bayangan mereka bahwa pulang dari LN oleh2nya pastilah belimpah dan terkesan ‘Wah’. Jawabannya juga sudah kupersiapkan seperti si A pasti suka ini, si B pasti mau itu, de el el. I hope they will like it!
Tapi oleh-oleh lain yang tiada bandingnya adalah cerita dan kesan-kesan selama hidup di LN beserta kenangan foto2nya maupun rekaman videonya. Juga yang terpenting, sepulangku nanti akan kubagikan oleh-oleh yang berguna yaitu sharing pengalaman agar bagaimana saudara, tetangga atau teman2ku bisa tergugah semangatnya untuk lebih terpacu dalam belajar sedini mungkin memacu prestasinya agar kelak disaat yang tepat dan dilengkapi usaha yang maksimal serta doa pastinya, Insya Allah akan dapat merasakan bagaimana studi di LN sepertiku dan teman2 lain disini dengan biaya dari beasiswa manapun (karena kalau hanya mengandalkan biaya sendiri ataupun biaya dari orangtua akan sangatlah berat….sepertiku yang hanya memiliki seorang ibu sejak kuliah). Semoga studi ke LN tidak hanya menjadi mimpi semata bagi siapapun terutama bagi saudara & teman2ku, karena kalau kita mau berusaha sejak dini, berdoa, pantang menyerah, Insya Allah selalu ada jalan menuju kehidupan yang lebih baik, misalnya mendapatkan kesempatan studi ke LN. Semoga bermanfaat….